Lewati ke konten utama
Basa Basi Mitsy

Pembelajaran & Penilaian

Basa Basi Mitsy: Using Exit Tickets to Check Understanding di Kelas

Cara guru History dan Bahasa Indonesia di Australia memakai exit ticket untuk cek pemahaman siswa Year 9-12, plus catatan hangat dari Basa Basi Mitsy.

Basa Basi Mitsy: Using Exit Tickets to Check Understanding di Kelas

Di Basa Basi Mitsy, saya sering menulis hal-hal kecil dari kelas, bukan teori yang terlalu rapi bangeet. Hari ini saya mau cerita tentang exit ticket, yaitu kartu singkat di akhir pelajaran untuk cek pemahaman siswa. Saya pakai ini di kelas History dan Bahasa Indonesia, terutama Year 10 sampai 12 di Australia. Tujuannya sederhana: sebelum siswa pulang, saya tahu siapa yang sudah paham dan siapa yang masih binggung. Kadang Metal dan Mitsy ikut “mengawasi” saat saya menilai tumpukan kecil itu di meja dapur.

Pertanyaan “ada yang tidak paham?” biasanya dijawab diam. Siswa yang bingung sering tidak mau angkat tangan, terutama di kelas Year 9-12. Exit ticket memaksa semua orang menulis satu jawaban singkat. Dalam 3 menit, saya dapat gambaran kelas. Misalnya di topik causes of WWI, saya tanya: “Sebutkan satu penyebab langsung dan satu penyebab jangka panjang.” Jawaban yang mirip teks buku tanpa penjelasan menunjukkan hafalan, bukan paham. Kalau 6 dari 26 siswa menyebut “assassination” tapi tidak bisa hubungkan ke aliansi, saya tahu besok harus ulang bagian itu. Ini bukan penilaian formal, tapi data kecil yang menyelamatkan lesson berikutnya.

Saya buat satu pertanyaan, bukan lima. Formatnya bisa kertas A6 atau Google Form, tergantung kelas. Untuk Bahasa Indonesia, pertanyaan sering berupa “Tulis satu kalimat dengan kata kerja ‘membeli’ dan jelaskan maknanya.” Saya batasi waktu 2 menit agar tidak jadi tugas tambahan. Setelah kelas, saya sortir jawaban menjadi tiga tumpuk: paham, hampir, belum. Tumpuk “belum” saya pakai untuk warm-up keesokan hari. Menurut saya, exit ticket yang baik tidak lebih dari satu soal dan tidak perlu dinilai dengan angka. Ia hanya check understanding, bukan ujian.

Tumpukan exit ticket di meja guru
Tumpukan exit ticket di meja guru

Ide ini dekat dengan assessment for learning yang menekankan umpan balik kecil dan sering. Saya tidak selalu berhasil, tapi prinsipnya membantu saya tidak terlalu cepat pindah topik bangeet.

Dulu saya terlalu sering pakai exit ticket sampai siswa bosan bangeet. Sekarang saya gunakan 2-3 kali seminggu, biasanya setelah konsep baru. Juga saya hindari pertanyaan yang terlalu umum seperti “Apa yang kamu pelajari hari ini?” karena jawabannya sering kosong. Lebih baik tanya satu keterampilan spesifik. Kalau kelas sedang lelah, saya ganti dengan quick poll lisan. Metal biasanya tidur di dekat laptop saat saya merekap data, dan Mitsy suka duduk di atas kertas yang belum saya sortir. Itu bukan metode pedagogis, tapi cukup mengingatkan saya bahwa pekerjaan ini tetap manusiawi.

Exit ticket bukan solusi ajaib. Ia hanyalah kebiasaan kecil yang membuat saya mendengar siswa lebih sering. Di Basa Basi Mitsy, saya akan terus menulis catatan seperti ini, termasuk yang gagal. Kalau Anda guru atau orang tua, coba satu pertanyaan di akhir pelajaran minggu ini. Lihat apa yang muncul. Kadang jawaban paling jujur justru yang paling pendek.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu exit ticket dalam kelas History?
Exit ticket adalah kartu singkat di akhir pelajaran untuk cek pemahaman siswa. Di Basa Basi Mitsy saya pakai satu pertanyaan spesifik, bukan ujian formal.
Berapa lama waktu yang ideal untuk exit ticket?
Sekitar 2-3 menit. Kalau lebih lama, ia mulai terasa seperti tugas tambahan.
Apakah exit ticket harus dinilai dengan angka?
Tidak. Saya sortir menjadi paham, hampir, dan belum, lalu pakai untuk warm-up keesokan hari.
Kapan exit ticket tidak cocok dipakai?
Kalau kelas sangat lelah atau topiknya baru pengantar, quick poll lisan bisa lebih tepat. Exit ticket tetap alat kecil, bukan solusi ajaib.