Lewati ke konten utama
Basa Basi Mitsy

Teaching & Education

Basa Basi Mitsy: Teaching Year 9 History Ancient Rome — A Classroom Story That Actually Worked

A personal blog story about teaching Ancient Rome to Year 9 students in Australia. Mixing English & Indonesian naturally, with tips on storytelling, critical thinking, and classroom connection.

Basa Basi Mitsy: Teaching Year 9 History Ancient Rome — A Classroom Story That Actually Worked

Pernah nggak sih, lo ngajar sesuatu yang lo sendiri pikir, “Wah, ini bakal seru banget,” tapi pas di kelas, reaksinya kayak… sepi? Kayak gue waktu ngajar Year 9 History tentang Ancient Rome. Gue pikir, “Gila, ini Kaisar, gladiator, Colosseum — pasti pada suka.” Eh, yang ada malah muka-muka kosong, ada yang mainin pulpen, ada yang ngelamunin jadwal istirahat. Tapi tenang, namanya juga guru, kita punya trik. Dan di blog Basa Basi Mitsy ini, gue mau cerita gimana caranya ngubah pelajaran yang tadinya kayak batu Romawi kuno jadi sesuatu yang hidup. Biasanya sih, Mitsy — kucing gue yang satu itu — suka duduk di samping laptop pas gue nulis, kayak dia ngawasin biar cerita gue nggak boring. Well, hari ini gue nggak pake bantuan dia, tapi semoga cerita ini tetap asik.

Gue inget betul, itu hari Selasa, jam ke-3. Kelas 9C, yang terkenal agak rame tapi sebenernya anak-anaknya baik. Topiknya: The Fall of the Roman Republic. Kedengerannya berat, ya? Iya, apalagi buat anak umur 14-15 yang lebih mikirin what’s for lunch daripada what happened in 44 BC. Tapi gue punya satu senjata rahasia: storytelling. Gue nggak mau cuma nyebutin tanggal dan nama. Gue mau mereka merasakan gimana rasanya jadi senator Romawi yang lagi konspirasi, atau jadi warga biasa yang bingung ngeliat Caesar jadi diktator. Jadi gue mulai dengan satu pertanyaan: “Bayangin lo punya temen yang tiba-tiba jadi bos lo. Lo seneng apa sebel?”

Nah, dari situ, kelas mulai hidup. Ada yang bilang, “Sebel dong, sir, dia kan temen gue, masa jadi bos?” Ada yang lain nimpalin, “Tapi kalo dia jago sih, nggak apa-apa.” Dan gue tinggal kaitin itu ke Julius Caesar. “Nah, orang Romawi juga gitu. Ada yang sayang sama Caesar, ada yang takut dia jadi raja.” Tiba-tiba, Ancient History nggak terasa kuno lagi. Mereka mulai ngerti kenapa Brutus dan kawan-kawan menusuk Caesar — bukan cuma karena dendam, tapi karena mereka takut kehilangan power dan freedom yang mereka punya. Dan di situlah letak serunya ngajar.

The Power of “What If?” — Bikin Sejarah Jadi Nyata

Salah satu cara favorit gue buat ngajar topik kayak gini adalah pake skenario what if. Misalnya, “What if Caesar nggak mati di Ides of March? Apa Roma bakal jadi kerajaan lebih awal?” Ini kedengerannya kayak main-main, tapi sebenarnya ini ngelatih critical thinking mereka. Mereka harus pake fakta yang udah gue kasih — tentang Senate, tentang Plebeians dan Patricians, tentang military reforms Marius — buat nebak apa yang bakal terjadi.

Gue biasanya nulis di papan tulis: “If Caesar had lived, then…” Terus suruh mereka brainstorm dalam kelompok kecil. Hasilnya? Ada yang bilang, “Dia bakal jadi raja, terus anaknya jadi raja juga, dan Roma bakal stabil.” Ada yang bilang, “Nggak, Senate bakal tetap benci sama dia, malah perang saudara bakal lebih parah.” Dua-duanya valid! Dan dari situ, gue bisa masuk ke materi tentang Augustus dan Pax Romana. Mereka jadi ngerti kenapa Augustus lebih pinter dari Caesar — dia nggak ngaku jadi raja, tapi jadi princeps (first citizen). Smooth move, kan?

Gue juga suka ngasih visual aid. Di sini, gue pake gambar rekonstruksi Roman Forum.

Reconstruction of the Roman Forum, showing temples and basilicas
Reconstruction of the Roman Forum, showing temples and basilicas

Gue tunjukin gambar itu, terus gue bilang, “Bayangin lo jalan di sini, 50 BC. Lo liat toga, lo denger orang debat, lo cium bau roti dari toko sebelah. That’s the heart of the Republic.” Tiba-tiba, mereka nggak cuma belajar tentang institution, tapi tentang life. Dan itu yang bikin sejarah nempel di kepala.

The Gladiator Trap — Jangan Sampe Kejebak di “Cool Factor”

Satu hal yang gue pelajarin sebagai guru: jangan terlalu fokus sama hal-hal yang flashy. Iya, gladiator itu keren. Colosseum itu megah. Tapi kalo lo cuma ngomongin itu, lo kehilangan esensi dari why Roma itu penting. Anak-anak bakal inget gladiator fights karena Hollywood, tapi mereka lupa kalo Roma juga yang ngasih kita aqueducts, Roman law, dan Latin language yang jadi akar banyak bahasa Eropa.

Jadi, pas gue ngajar, gue selalu usahain balance. Misalnya, setelah bahas gladiator, gue langsung tanya, “Ok, cool. Tapi lo tau nggak, kalo Roman concrete itu salah satu alesan kenapa bangunan mereka bisa tahan 2000 tahun? We still can’t fully replicate it today.” Nah, itu mind-blowing buat mereka. Mereka jadi mikir, “Wah, ternyata orang jaman dulu pinter juga.” Dan dari situ, gue bisa masuk ke engineering dan infrastructure Roma. History bukan cuma cerita perang dan pahlawan, tapi juga cerita tentang innovation.

Gue juga suka ngasih fun fact yang relate sama keseharian mereka. Misalnya, “You know how you guys love your hot showers? The Romans had public baths with underfloor heating. They called it a hypocaust.” Reaksi mereka? “WHAT? 2000 years ago?” Yeah, mind blown again.

The Homeroom Connection — Dari Romawi ke “Real Life”

Nah, ini bagian yang paling gue suka. Karena gue adalah homeroom teacher buat beberapa kelas, gue punya kesempatan buat ngaitin pelajaran sejarah sama kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya, pas kita bahas Roman Senate, gue bisa bilang, “Lo liat cara Senate debat? Itu mirip kayak lo lagi group project. Ada yang pengen dominate, ada yang silent majority, ada yang compromise. Siapa yang biasanya jadi leader di kelompok lo?” Mereka mulai ngeliat pola yang sama.

Atau pas bahas corruption di Roma akhir, gue tanya, “Lo pernah nggak ngerasa ada temen lo yang curang di ujian, atau ada unfair rules di sekolah? Nah, orang Romawi juga ngerasa itu. That’s one reason the Republic fell.” Gue nggak maksa mereka buat direct comparison, tapi gue kasih lens buat ngeliat dunia mereka. Dan hasilnya? Mereka jadi lebih engaged, karena mereka ngerasa topik ini relevant.

Pernah suatu hari, salah satu murid gue, namanya Jake, yang biasanya pendiem, tiba-tiba ngangkat tangan. “Sir, jadi the Senate itu kayak school council kita ya? Ada yang pengen jadi president, ada yang campaign, ada yang backstab?” Gue ketawa, “Exactly, Jake. History repeats itself, just with different costumes.” Gue seneng banget pas dia bisa bikin koneksi kayak gitu. That’s the moment you live for as a teacher.

The Bahasa Indonesia Twist — Ngenalin Konsep Lewat Bahasa Lain

Karena gue juga ngajar Bahasa Indonesia, kadang gue nyelipin dikit-dikit. Misalnya, pas bahas Roman values, gue bilang, “Orang Romawi punya konsep gravitas — itu artinya seriousness and dignity. Di Bahasa Indonesia, kita punya kata wibawa. Mirip, kan?” Atau pas bahas dictator, gue tanya, “Kalo di Indonesia, siapa yang pernah jadi dictator secara de facto?” Mereka mulai mikir, dan diskusi jadi lebih nuanced.

Gue juga suka ngasih mereka challenge: “Coba lo cari kata Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Latin. Hint: banyak banget di istilah hukum dan sains.” Mereka mulai nyari-nyari, dan nemu kata kayak konsultasi (dari consultare), forum (dari forum), dokumen (dari documentum). It’s like a treasure hunt. Dan ini ngajarin mereka kalo bahasa itu hidup, saling pinjam-meminjam, dan sejarah itu ada di mana-mana, termasuk di kata-kata yang mereka ucapkan setiap hari.

Metal and Mitsy — The Unlikely Teaching Assistants

Gue janji, gue bakal cerita soal kucing gue. Nah, Mitsy dan Metal itu kadang jadi ice breaker di kelas. Pas online learning dulu, mereka sering muncul di background pas gue ngajar. Anak-anak jadi suka, “Sir, kucing sir lucu!” Dan gue pake itu buat ngenalin Roman pets. “Lo tau nggak, orang Romawi juga suka kucing. Mereka percaya kucing itu simbol liberty karena mereka nggak bisa dijinakkan sepenuhnya.” See? Everything connects.

Kadang, pas gue lagi stuck mikirin cara ngajar suatu topik, gue liat Mitsy tidur di kursi, dan gue mikir, “Mungkin gue harus lebih santai. Nggak usah terlalu kaku.” Dan bener aja, pas gue ngajar dengan relaxed vibe, murid-murid lebih responsive. Jadi, terima kasih, Mitsy, udah jadi coach guru yang baik.

The Final Verdict — Kenapa Cerita Ini Penting

Gue nulis ini bukan buat pamer. I’m not the perfect teacher. Kadang gue gagal, kadang kelas chaos, kadang ada murid yang tidur. Tapi momen kayak gini — pas mereka get it, pas mereka connect the dots — itu yang bikin gue bertahan. Teaching isn’t about delivering information. It’s about building bridges between the past and the present, between the textbook and their lives.

Dan di blog Basa Basi Mitsy ini, gue pengen nge-share journey itu. The good, the bad, the ugly. Karena belajar itu nggak harus serius terus. Kadang, lo butuh basa-basi dulu biar chemistry nya dapet. Just like how Mitsy always starts with a meow before she curls up on my lap.

So, buat lo yang guru, atau yang tertarik sama sejarah, atau yang cuma stumble upon blog ini karena random search: remember that history is not a dead subject. It’s a story about us, about our struggles, our triumphs, and our stupid mistakes. And the best way to learn it is to tell it like a story.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya, mungkin gue bakal cerita soal ngajar WWI sambil ngemil vegemite toast.

Pertanyaan yang sering diajukan

Gimana cara bikin sejarah Ancient Rome menarik buat siswa Year 9?
Gunakan storytelling dan skenario ‘what if’. Jangan cuma kasih tanggal dan nama, tapi bikin mereka ngerasain dilema yang dihadapi orang Romawi. Misalnya, tanya ‘Would you stab Caesar to save the Republic?’ Itu langsung bikin mereka mikir.
Kenapa di blog Basa Basi Mitsy lo campur Bahasa Inggris dan Indonesia?
Karena gue ngajar dua bahasa itu, dan di kelas gue sering code-switch secara alami. Ini bikin pelajaran lebih relatable buat siswa bilingual, dan nunjukin kalo belajar bahasa itu nggak kaku.
Apa hubungan kucing lo, Metal dan Mitsy, sama ngajar sejarah?
Mereka sering jadi ice breaker di kelas. Gue pake cerita mereka buat ngenalin topik kayak Roman pets atau symbolism. Plus, liat mereka tidur bikin gue inget buat relax dan nggak terlalu serius.
Apa satu *takeaway* utama dari artikel ini buat guru lain?
Jangan takut buat ngaitin sejarah masa lalu sama kehidupan sehari-hari siswa. Kalo mereka bisa ngeliat pattern yang sama di group project atau school council, mereka bakal lebih engaged dan inget materinya lebih lama.