Kekecewaan

Posted on

Liburan kali ini, gue bertemu seorang teman yang sudah lama tidak ketemu, namanya I, I merupakan teman gue dan E sejak belajar bahasa inggris dulu di Australia, masa umur tujuh belasan gitu. Jujur aja, gue ama I tidak terlalu dekat, tetapi sejak I mengetahui keadaan hidup gue, dia kadang kali menanyakan keadaan. Sedangkan E sendiri teman yang begitu lama, yang sudah gue anggap saudara, kaga pernah menghubungi sama sekali. Cuma awal dia tau berita ini, dia minta cari dia kalau perlu bantuan, banyaak yang bilang begitu, tetapi sebenarnya mereka tidak pernah melakukan apapun atau niat membantumu. Kamu pada saat paling down, kamu benar tau siapa teman asli dan siapa bukan.

E dan V menikah dan gue dekat ama mereka, sampai suatu hari V menghubungiku dan memberitahuku bahwa E selingkuh, jujur aja gue tidak percaya itu. E bukan tipe cowo seperti itu, dia sayang ama keluarganya. V juga bukan wanita yang gampang, dia suka cemburu dan marah dan merasa E tidak sejalan pikirannya dalam mendidik anak mereka.  Anyway, V minta gue antarin dia ke pelakor itu, dia ingin bertemunya dan ribut dengannya. Pengalaman dari keluargaku yang dulu, gue tidak menyarankannya karena gue tau ini hanya akan membuat E makin dekat ke pelakornya dan tau kelakuan V, dia benaran akan main kasar dan akhirnya yang rugi dia sendiri. V sangat marah waktu itu karena merasa gue tidak mau bantu. Gue menghubungi E dan bertanya soal kebenarannya keadaan itu, E mengelak seperti layaknya cowok, dia lalu marah.

Beberapa hari seterusnya, saya dan V sering berbicara lewat telepon, tiba-tiba dia tidak lagi menghubungiku, gue hubungi terakhir, mereka sudah baikan dan V tidak lagi mau bicara dengan gue. Dia tidak mau datang ke pestaku, dia tidak menghubungiku saat marriage gue fall apart. Ya udah, menurut gue kehilangan teman palsu itu tidak apa-apa, cuma terakhir gue tau dari I, ternyata si E emang selingkuh, V mendapatkan foto dia mencium seorang gadis yang muda. Pas ditanyain, si E mengaku “Just For Fun”, typical bangetkan. Jujur, gue kaget dengan semua ini, gue kira si E tipe orang bisa dipercaya (tidak selalu sih, cuma ya masih tau batas), ternyata dia juga cowo yang dideketin cewe muda, genit, nakal, kenapa enggak.

Sejak tau itu, awal emang tidak ada niat mau berteman lagi ama V dan E gara-gara incident di atas, gue benar putus hubungan total, malas gue berteman ama orang yang begitu kelakuannya. Ya, mungkin V bukan istri yang sabar, dia juga egois, tetapi mereka punya anak, apakah tindakannya tidak memikirkan anaknya dulu? Dia bilang si V susah, mereka sudah berkali-kali ribut mau cerai, si V masih setuju kalau E bisa bertemu anak mereka. Ada sekali katanya, mereka ribut gitu parah, E pindah keluar dari rumah, dan arrangement mereka yaitu, mereka bisa bertemu anak, tetapi anaknya ama si V. Si E ingin seminggu sekitar 3 sampai 4 hari bersama anak-anaknya, si V setuju asal setiap hari bergantian, si E tidak setuju karena ribet dan bikin pusing anaknya, si V sebenarnya cuma mau ada alasan bertemu dan membuat hidupnya susah. Jujur aja gue kira si V tidak akan kasih E kesempatan bertemu anak-anaknya sama sekali.

Jujur aja, gue sangat kecewa, si E mengatakan 90% dari cowo ya pasti cari cewe lain, itu normal, tetapi sekilas fling doank tidak serius. Gue tidak tau kalau emang cowo diprogram untuk tidak setia, atau punya hak atas wanita untuk selalu mengecewakan mereka. Kalau cewe yang selingkuh pasti beda halnya, semua panggilan yang tidak enak didengar akan keluar. apakah benar cowo menyalahkan cewenya karena dia sudah tua, tidak cantik lagi, tidak sabar lagi, tetapi apakah benar ini keinginan tuh cewe? semua cewe ingin menjadi cantik, selalu muda, selalu sabar tetapi kadang situasi tidak memungkinkan, ada duit ke salon? punya biaya untuk botox selalu? pulang kerja masak, jaga anak, bersihin rumah, capekkan. Menurut gue, kalau emang tidak sayang lagi, putusin total, urus cerainya dan pisah baik-baik daripada langkah ke depan, ada yang tersakitin, si E tidak mikir, usia tuh cewe, masih bisa hamil, trus istri dan anaknya gimana? jangka panjang nanti, lebih banyak yang akan tersakitin.

Di situ sakitnya wanita, tentang kebohongan, tentang jawaban tidak tanggung jawab, dan tentu saja tentang berbagi, susah mau stay satu pasangan, tetapi bukan tidak mungkin. Semua itu pilihan. putus mungkin sakit, tetapi kalau kamu masih respect, kamu putusin total baru mulai baru, itu baru yang sebenarnya baik untuk semua orang. Jangan makan sambil ngebayangin yang di panci  masak, lakukan hal yang benar untuk semua orang.

Anyway, makin banyak gue dengar kejadian seperti ini, makin yakin gue ama satu hal, mending hidup sendiri seumur hidup bersama kucing saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *