It is hard to stay strong

Posted on

Kesehatan mental anak-anak sudah meningkat 35%, itu cuma di kalangan anak-anak belum juga orang dewasa sejak covid ini. Untungnya belum ada peningkatan dalam tingkat bunuh diri.

Walaupun para ahli mengatakan kalau tidak ada peningkatan dalam jumlah bunuh diri, makin banyak mengalami masalah mental, terutama di kalangan pria yang banyak kehilangan kerja dan merasa kehilangan status diri mereka, tidak tau apa tujuan hidup lagi.

Sejak Maret 2020, jumlah kasus bunuh diri sudah mencapai 1200 kasus (7 News, 7 Agustus 2020)

Kasus bunuh diri juga menjadi perhatian dunia karena situasi covid ini membuat kita makin susah mendapatkan bantuan dari orang lain.

Dari pengalaman sendiri, sejak maret, saya hidup sendiri di rumah yang termasuk besar bersama dua ekor kucingku. Orang lain dilarang berkunjung berdasarkan peraturan pembatasan wilayah yang dibuat pemerintah setempat. Ini berlangsung sampai akhir Mei dan kembali berlaku sejak juni sampai oktober nanti. Jadi hampir 5 bulan saya dikurung dalam rumah tanpa kunjungan siapapun. Ada sih dua tukang yang saya minta datang untuk perbaiki kerusakan perabot rumah, sekitar 3 jam total dari lima bulan itu.

Pertama dikurung, perasaan ngak seberat sekarang, karena waktunya lebih singkat dan waktu itu kamu baru mulai belajar pembelajaran online, jadi saya sibuk dengan itu, sibuk dengan membersihkan rumah dan mulai belajar hidup dalam rumah saja.

saat udah terbiasa, kami boleh kembali kerja, walaupun sangat singkat, rasanya senang bertemu orang lagi.

tiba-tiba melonjak angka kasus, kami kembali ke lockdown kedua, kali ini kami tidak boleh lagi keluar dari 5 km daerah perumahan sendiri. Saya kehilangan contact langsung dengan teman, saya tinggal jauh dari tempat kerja, dan di daerah baru ini, baru tiga tahun dan saya tidak begitu kenal dengan orang di sini. Daerah ini juga bukan daerah aman, sehingga saya kurang berminat berjalan atau bersepeda lagi, karena pernah saya hampir ditabrak pas bersepeda. Jadi olahraga hanya di rumah, seminggu sekitar 2 kali, saya pergi ke supermarket untuk berbelanja.

sisa komunikasi hanya lewat telpon dan medsos. Untungnya ada dua kucing yang nemanin, tetapi saya kangen bertemu orang, berbicara tatap muka. Saya kangen ada yang bisa temanin di rumah ngobrol dan mendengar uneg-uneg susahnya dikurung ini.

Pemerintah setempat kemudian baru ingat orang yang tinggal sendirian, sehingga awal september dia membuat peraturan kami bisa menominasi seorang teman sebagai teman berkunjung. Peraturannya sangat ketat dan tidak adil, saya memutuskan tidak menominasi siapa pun. saya tidak ada pacar atau teman tetapi dekat, saya awalnya mau nominasi teman kerja, tetapi kemudian yang terjadi, mereka harus berkunjung ke saya karena saya tidak bisa ke rumah mereka, karena mereka tinggal bersama keluarganya. Teman saya juga tidak bisa berkunjung seminggu sekali, sebulan sekali baru mungkin, teman saya pada berkeluarga dan yang tidak tinggalnya sangat jauh, akhirnya saya tidak mau menyusahkan orang. Itu pilihan yang berat tetapi benar tempat tinggal saya jauh, tidak adil buat teman-teman saya. Pasti ada yang mikir, keluarga saya mana? saya tidak mengharapkan apapun dari keluarga saya.

Saat lockdown ini juga, sakit merupakan hal yang sangat berat, saya pernah jatuh dan terluka sehingga kalau jalan sakit, tetapi saya tetap memaksa untuk bangun memberi makan kucing dan membuat makan, saat lagi demam, kepala pusing tetap tidak berani beritahu siapapun karena takut orang merasa kasihan atau khawatir. Ya udah telan obat dan tetap bergerak. saat lockdown ternyata lebih susah sembuh juga, walau kerjanya cuma makan dan tidur setiap hari, semangat sudah hilang, sehingga demam juga susah sembuh.

Itu mengapa orang bunuh diri, kadang overdosis, mempunyai semangat positif saat ini sangatlah susah di saat covid ini. Saya tidak lagi ingin olahraga, kadang makan juga mulai malas, yang saya inginkan ya di kasur seharian, tidur dan berharap bangun dan semua ini berlalu.

Kadang yang paling seram itu, mimpi buruk dan terbangun tidak ada yang bisa diceritain dan teringat masih dikurung, rasanya itu tidak tau yang mana lebih buruk, di mimpi buruk itu atau di hidup nyata ini?

Manusia adalah makluk sosial, jadi experiment ini sangatlah berat untuk kita semua, tidak semua orang bisa mengharapkan keluarga, ataupun teman. Jadi kita hanya ada diri kita untuk terus menjalanin jalan ini.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *