Hunting A killer Online

Posted on

Don’t F**k with Cats – Hunting an Internet Killer merupakan sebuah dokumentasi pendek tentang sebuah cerita nyata di mana sejumlah pengikut di sebuah page di  facebook yang mengejar seorang pembunuh kucing. Saya sendiri tidak percaya pemujaan terhadap pembunuh dan pemerkosa jadi, saya tidak akan menyebut nama lengkap orang ini, dia hanya cukup dipanggil Luka.

Netflix cendering memberikan rekomendasi seri yang mirip dengan film atau drama yang pernah kamu tontonin, itu kenapa kalau ada lebih dari satu orang di rumah, ada baiknya bikin multiple account supaya tidak ribet. Film ini sudah direkomendasi beberapa kali oleh Netflix ke saya, tetapi saya kira hanya film lucu dan tidak menghiraukannya. Akhirnya, hari ini saya tiba-tiba membuka berhubung tidak bisa keluar, cuaca di Melb lagi parah banget, kebakaran hutan di sini yang sudah berlangsung berminggu-minggu membuat orang asma hanya bisa sembunyi dalam rumah. Keluar bentar aja rasanya susah nafas dan harus selalu pakai masker pelindung khusus N95.

back to topic, apa bagusnya film ini? ini cerita nyata dan hanya tiga episode. Jadi awalnya si ada seorang maniak, membuat sebuah video di mana dia membunuh kucing dengan kejam, dia masukkan dua anak kucing ke sebuah tas dan menggunakan vakum untuk menghisap udara sampai anak-anak kucing itu mati. Dia mengedarkan video itu di facebook dan banyak orang sangat gamuk dan ingin membunuhnya, akhirnya banyak dari orang-orang ini membuat sebuah page di Facebook untuk mengejar pembunuh ini. Dari hasil investigasi, mereka berhasil menemukan Luka (namanya bukan luka di badan).

Luka, seorang model, escort dan juga porn star yang narsistik. Dia ingin menjadi terkenal dan emang menunjukkan gejala psychopath. Dia kemudian lanjut membuat dua lagi film pembunuhan kucing dan menggunakan alias palsu untuk menyebarkan video-video tersebut. Trus kenapa pembunuhan kucing bisa sampai dibuat sebuah dokumentari? karena pembunuhan Luka tidak berhenti sampai di situ saja, dia juga membunuh orang, Jun Lin, seorang pelajar dari Cina yang sedang berada di Montreal untuk berkuliah. Kasus ini berbeda, tidak hanya dia membunuh si Jun Lin, dia dokumentasi seluruh pembunuhannya di video, dia mutilasi tubuhnya dan mengirimkan beberapa bagian tubuh ke pemerintahan dan sekolah di Kanada.

Dokumentari ini walaupun pendek isinya, cuma isinya lengkap, ada wawancara ke orang-orang yang mengejarnya dari facebook page itu selama delapan belas bulan, oknum polisi dan pengacara yang bertugas dalam kasus ini, juga orang-orang yang terlibat, terakhir ibunya Luka sendiri. Yang paling saya keselin selama menonton dokumentasi ini yaitu wawancara mamanya. Mamanya tipikal seorang ibu yang permisif.

Di dunia pendidikan di Aussie, ada empat macam parenting styles;

  • authoritarian: hanya ortu yang benar dan tidak boleh di lawan sama sekali, biasanya ortu begini akan bersifat kasar dengan anak dengan menggunakan kekerasan yang berlebihan
  • authoritative: ortu yang beraturan dan juga menjelaskan kepada anaknya di mana kesalahannya dan tetap penuh kasih sayang
  • permissive: ortu yang tidak kasih anak aturan atau ada peraturan tetapi tidak pernah menegakkannya di rumah. Biasanya lebih sering kasih anak alasan dan jadikan mereka mentalnya seperti victim selalu.
  • Neglect: ortu yang sama sekali tidak peduli

Menurut pendidikan sini, baik guru maupun orang tua, harusnya sih berada di kategori authoritative tetapi kadang diperlukan juga kategori lain sesuai keadaan. Cuma mama Luka, sifatnya sungguh tidak cocok menjadi orang tua. Dia tau anaknya membunuh kucing dan orang, dia cariin alasan buat dia, Luka dipaksa, itu pengikut facebook itu gila sampai stalking Luka sehingga dia ketakutan.

Ini membuat saya sangat marah, sebagai seorang tua, tanggung jawab kamu tidak hanya memberikan makan anakmu, tetapi pendidikan mental anakmu juga harus kamu perhatiin. Jangan cuma mau enak di kasur dan tidak bertanggung jawab. Luka sebenarnya dari dokumentasi ini, menurut saya, anak yang pintar, cara dia menghindari polisi dan kejaran pengikut facebook, kalau saja dia dididik dengan benar.

Background story yang saya dapat, Luka pernah melihat mamanya meninggalkan seekor kelinci di luar rumah pada malam yang dingin, kelinci itu mati membeku. Inilah contoh orang tua yang tidak bertanggung jawab, maaf ya, hewan dan binatang juga punya hak, tidak diperbolehkan disiksa semena-mena. Papanya mengidap Schizophrenia (penyakit mental di mana pengidap penyakit ini tidak bisa membedakan realitas dan ilusi, sering berhalusinasi) dan cerai dengan mamanya.  Mamanya sendiri mengidap OCD, selalu ingin rumahnya bersih sampai tahap berlebihan. Dua kombinasi yang fatal untuk punya anak.

Sayang sekali, konsep punya anak sekarang masih sifatnya harus punya keturunan untuk menlanjutkan legacy atau menjaga ortu saat tua nanti. Konsep ini sebenarnya salah, walaupun kamu melahirkan anak, itu tidak berarti anak itu harus selalu mengikuti kata-katanya, didiklah seorang anak untuk kritikal dan tau mana baik dan buruk. Beruntung kalau mereka emang peduli dan sayang tetapi itu tidak selalu, ortu yang mau memberikan waktunya kepada anak-anaknya yang biasanya berhasil mendidik anak yang taat dan baik. Itu juga tidak selalu konsep 100% bakal terjadi. Benar, saya bekerja sudah tiga belas tahun di sekolah, saya sering melihat anak yang baik biasanya ortunya peduli, mengajarin anaknya bertanggung jawab, memberikan contoh yang benar, anak yang nakal sering kali kurang perhatian di rumah, ada gejala kekerasan. Pernah juga dari keluarga yang begitu baik, dapat anak yang nakal sekali, jadi orang tua tidak mudah, apalagi di Australia, di mana hukum selalu di sisi anak-anak. Ada ortu yang mukul anak (tidak berlebihan) ditangkap polisi, sekarang tidak boleh lagi menjenguk anak-anaknya karena sudah bersikap keras.

Saya selalu setuju kalau harus ada ijin untuk membuat keturunan dan percaya atau tidak, banyak guru yang setuju hal ini, karena terlalu banyak anak yang tidak benar karena orang tua yang tidak bertanggung jawab. Kasihan anak-anak yang tidak mempunyai keluarga yang baik dan menyayanginya, efeknya seumur hidup, banyak yang tidak berhasil keluar dari lingkaran kejam ini. Saya juga setuju dengan adanya kelas untuk mendidik ortu yang kurang, at least, sebuah usaha untuk membuat keluarga dan keturunan yang baik.

Anyway, film ini mengingatkan saya dengan film pembunuhan Gianni Versace, Andrew C. Dua anak yang pintar tetapi dari rumah tangga yang permisif, dua-duanya akhirnya terlibat dalam prostitusi dan akhirnya membunuh. Sungguh menyedihkan, hidup ini banyak percobaan dan tantangan, ajarin anakmu tabah, penuh kasih sayang kepada manusia dan hewan dan tidak menyerah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *