Guru, Korban Politik di Australia

Posted on

 

Sampai saat ini, pemerintah Australia masih juga belum menanggapi COVID-19 dengan serius. Menurut mereka, situasi masih terkendali tetapi, supermarket dah kosong, sabun cuci tangan habis total dan ada yang terpaksa beli sabun batang. Roti, tissue toilet, susu dan mie instant habis total. Makanan kaleng dan air minum juga belum terisi dengan stok baru atau langsung habis.

Supermarket Aldi sekarang buka satu jam lebih telat supaya mereka bisa mengisi semua stok untuk pelanggannya, Wollies dan Coles sekarang membuka tempatnya khusus bagi orang lansia dan penyangdang disabilitas, mulai jam 7 sampai 8 pagi. Supaya mereka tidak kehilangan kesempatan untuk membeli stok mereka. Dari berita, begitu sesudah jam 8, stok langsung habis, kapan gue bisa dapat susu nih?

Orang seperti gue yang tidak mau menimbun bahan-bahan pokok terpaksa harus tetapi keknya gue agak telat, karena rak sudah habis total di supermarket-supermarket yang ada. Obat yang gue butuhkan juga mulai habis di banyak tempat, terpaksa keliling deh mencari persediaan yang kuperlukan.

Tapi semua ini bikin kesel, tapi yang paling kesel yaitu pemerintah masih juga tidak bersedia menutup sekolah.

Mengapa?

Alasannya karena kalau anak-anak diliburkan terlalu lama, mereka akan anggap ini liburan dan berkumpul bersama teman-temannya sehingga penyebarannya lebih berbahaya, atau yang masih kecil diwajibkan dijaga oleh kakek atau neneknya, anak-anak sudah dikenal sebagai penyebar akan membuat kakek dan neneknya sakit ataupu meninggal. Cuma yang saya khawatir, berapa persentasi dari ini terjadi? berhubung banyak sudah orang tua yang diliburkan perusahaan mereka.

Restoran hanya menyediakan take away, tidak lagi boleh makan di dalam, pertemuan tidak lagi diperbolehkan lebih dari seratus orang, sekolah yang mungkin 10-12% lebih dari itu boleh tetap dibuka.

Pemerintah tidak berpikir soal gurunya, banyak guru sudah sakit pada akhir cawu, banyak yang kecapekan sehingga rentan sakit. Saya yang sekarang rajin olahraga setiap hari saja sudah tidak lagi kuat menanggapi tekanan di tempat kerja dari murid-murid yang panik dan pekerjaan yang bertambah.

Kami diwajibkan mengajar secara online bila sekolah ditutup, di rumah juga walau lock down, kami wajib membuat pembelajaran online. Belum lagi ini masih penulisan rapor, banyak dari kami yang sudah kecapaian mengurus dan memeriksa test yang ada. Pekerjaan kami bertambah sedangkan masyarakat masih menganggap kinerja kami kurang.

Benar, buat yang merasa begitu, silahkan datang ngajarin kelas-kelas gue. Gue kasih kelas paling baik juga, kamu belum tentu mampu mengurus beban kerja guru.

Benar sih, kalau guru yang meninggal, tinggal diganti guru baru.

Benaran apa gue masih mau menjadi guru? jawabannya TIDAK. Gue suka mengajar dan gue mampu mengajar dan mengurus anak-anak walaupun mereka bandel. Gue bisa bangun sebuah hubungan positif dengan murid-murid gue. Ini penting, karena dengan itu, mereka tidak nakal di kelasku.

Cuma, kerjaan administrasi di luar mengajar sudah melampaui kemampuanku.

Gue bukan satu-satunya yang sudah berencana berhenti, banyak yang mengajar lebih lama dari gue dan sudah dekat masa pensiun juga merasakan tekanan ini.

Semoga Pemerintah Australia harus cepat sadar, kami perlu dilindungi juga, kami bukan cuma pengasuh bayi atau pramusiwi.

KAMI TIDAK MAU MENJADI KORBAN RENCANA POLITIK KALIAN

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *