Lewati ke konten utama
Basa Basi Mitsy

Pendidikan & Sejarah

Basa Basi Mitsy: Cerita Kelas Saat Murid Nanya Soal World War One

Cerita hangat dari kelas History Australia: saat murid bertanya kenapa Australia ikut WWI. Diselingi kucing Mitsy dan Metal, plus diskusi seru.

Basa Basi Mitsy: Cerita Kelas Saat Murid Nanya Soal World War One

Pernah nggak sih, kamu ngajar terus tiba-tiba ada murid yang nanya sesuatu yang bikin kamu mikir, “Wah, ini pertanyaan bagus banget”? That happened to me last week, dan momen kayak gitu yang bikin saya pengen nulis di Basa Basi Mitsy. Jadi ceritanya gini: saya lagi ngajar History kelas 10 tentang World War I, terus tiba-tiba seorang murid, namanya Jack, ngacung dan nanya, “Sir, why did Australia even go to war for Britain? It wasn’t our fight.” Pertanyaan simpel, tapi langsung mengalihkan seluruh dinamika kelas. Dari situlah diskusi seru dimulai, lengkap dengan kehadiran Mitsy yang suka duduk di meja saya pas lagi Zoom meeting. Kadang dia ikut ngajar juga.

The Trench of Questions: Menggali Lebih Dalam

Jadi setelah Jack nanya, saya nggak langsung jawab panjang lebar. Saya malah balik nanya ke kelas, “Siapa yang setuju sama Jack? Angkat tangan.” Lima tangan naik. Lalu saya tanya, “Siapa yang ngerasa Australia harus ikut?” Tiga tangan naik. Sisanya bingung. Nah, ini momen emas buat ngeliat gimana perspektif mereka tentang sejarah. Saya jelasin bahwa tahun 1914, Australia masih bagian dari British Empire, dan banyak orang Australia waktu itu merasa punya kewajiban moral untuk membela “Mother Country”. Tapi saya juga bilang, “Itu nggak berarti semua orang setuju, lho. Ada yang protes, ada yang ngerasa ini perang Eropa yang nggak ada hubungannya sama kita.”

Saya kasih data: sekitar 416.000 orang Australia bergabung dalam perang itu, dan 60.000 di antaranya tewas. Angka itu setara dengan 1,4% dari total populasi Australia tahun 1914 yang cuma sekitar 4,9 juta jiwa. Bayangin, 1 dari setiap 82 orang Australia tewas. “Gila, Sir,” kata Sarah dari barisan belakang. “That’s like losing the whole school and then some.” Dari situlah diskusi makin hidup. Mereka mulai nanya tentang Gallipoli, tentang propaganda, tentang gimana rasanya jadi tentara di parit. Saya cerita sedikit tentang pengalaman pribadi waktu saya riset di Australian War Memorial. Bukan buat pamer, tapi biar mereka ngerti sejarah itu nyata, bukan cuma angka di buku.

Mitsy dan Metal: Tamu Tak Diundang di Kelas

Ngomong-ngomong soal nyata, kucing saya Mitsy dan Metal sering banget jadi “tamu tak diundang” di kelas saya. Waktu saya ngajar online selama pandemi, Mitsy suka tiba-tiba lompat ke keyboard dan ngetik “jfkdjfkd” di chat Zoom. Murid-murid pada seneng, malah jadi ice breaker. Tapi pas ngajar offline, ceritanya beda. Suatu hari, saya lagi bahas tentang perang parit di WWI, dan tiba-tiba Metal si kucing hitam yang paling galak masuk kelas lewat pintu yang kebuka. Dia langsung lari ke belakang dan sembunyi di bawah meja Lily. Semua murid pada ngakak, dan saya bilang, “Nah, ini dia contoh ’no man’s land’. Daerah yang nggak aman buat siapa pun, termasuk kucing.”

Momen kayak gini yang bikin saya suka ngajar. Sejarah itu kadang berat, tapi kalau diselingi cerita ringan, murid jadi lebih engage. Saya sering pake analogi kucing buat ngejelasin konsep sejarah. Misalnya, “Perang Dunia I itu kayak dua kucing yang saling mendesis. Semua pihak cuma nunggu siapa yang menyerang duluan.” Mereka ketawa, tapi mereka inget.

FAQ: Jawaban untuk Pertanyaan yang Sering Muncul

Q: Kenapa sih Australia ikut perang yang bukan urusannya? A: Karena tahun 1914, Australia belum merdeka sepenuhnya. Kami masih bagian dari British Empire, jadi kalau Inggris perang, kami ikut. Tapi banyak juga yang protes, lho. Ini topik yang masih diperdebatkan sampai sekarang.

Q: Apakah kucing Sir bisa diajarin sejarah? A: Haha, Mitsy lebih tertarik sama sinar matahari daripada sejarah. Tapi saya yakin dia tahu kapan waktunya makan. Itu udah cukup.

Q: Apa pelajaran terbesar dari WWI buat murid-murid Sir? A: Bahwa perang itu nggak pernah semulia yang digambarkan di poster propaganda. Banyak nyawa melayang sia-sia. Tapi dari situ kita belajar pentingnya diplomasi.

Q: Kenapa blog ini namanya Basa Basi Mitsy? A: Karena saya suka ngobrol santai sambil ngajar, dan Mitsy selalu jadi inspirasi. Dia suka duduk di pangkuan saya pas saya nulis, jadi ya, namanya pake namanya.

Penutup: Sejarah Itu Hidup

Saya rasa, ngajar sejarah itu bukan cuma soal ngasih tahu tanggal dan nama. Ini soal ngajak murid buat ngerasain dilema, pertanyaan, dan emosi yang ada di balik setiap peristiwa. Kalau mereka bisa nanya “Kenapa?” dan kita bisa jawab dengan cerita yang relate, itu udah sukses. Dan kalau ada kucing yang tiba-tiba masuk kelas, ya, itu bonus.

Jadi gimana dengan kamu? Ada cerita lucu atau seru dari kelas? Share di kolom komentar, atau mampir ke Basa Basi Mitsy lagi buat baca cerita-cerita lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Bacaan terkait soal kebiasaan baik: Untungin

Pertanyaan yang sering diajukan

Kenapa sih Australia ikut perang yang bukan urusannya?
Karena tahun 1914, Australia belum merdeka sepenuhnya. Kami masih bagian dari British Empire, jadi kalau Inggris perang, kami ikut. Tapi banyak juga yang protes, lho. Ini topik yang masih diperdebatkan sampai sekarang.
Apakah kucing Sir bisa diajarin sejarah?
Haha, Mitsy lebih tertarik sama sinar matahari daripada sejarah. Tapi saya yakin dia tahu kapan waktunya makan—itu udah cukup.
Apa pelajaran terbesar dari WWI buat murid-murid Sir?
Bahwa perang itu nggak pernah semulia yang digambarkan di poster propaganda. Banyak nyawa melayang sia-sia. Tapi dari situ kita belajar pentingnya diplomasi.
Kenapa blog ini namanya Basa Basi Mitsy?
Karena saya suka ngobrol santai sambil ngajar, dan Mitsy selalu jadi inspirasi. Dia suka duduk di pangkuan saya pas saya nulis, jadi ya, namanya pake namanya.