Lewati ke konten utama
Basa Basi Mitsy

Teacher

Classroom management tips for new teachers | Basa Basi Mitsy

Classroom management tips for new teachers | Basa Basi Mitsy

Saya masih ingat minggu pertama mengajar di sebuah SMA di pinggiran Melbourne, berdiri di depan kelas Year 9 History yang baru saja selesai lunch. Ada yang masih ribut, ada yang tidur-tiduran di meja, ada pula yang sibuk coret-coret buku pakai spidol. Sebagai guru baru, classroom management itu rasanya kayak nyoba nge-handle kucing Metal dan Mitsy di rumah: unpredictable, kadang chaotic, tetapi kita harus tetap calm supaya mereka tidak makin menjadi. Di Basa Basi Mitsy, saya sering cerita bahwa jadi homeroom teacher sekaligus mengajar dua mata pelajaran berbeda—History dan Bahasa Indonesia—itu penuh drama kecil yang justru jadi laboratorium paling jujur buat belajar mengelola kelas. Tahun pertama itu, banyak trial and error yang akhirnya membentuk beberapa prinsip sederhana yang masih saya pakai sampai sekarang.

Bukan berarti sekarang saya sudah jago, lho. Setiap semester selalu ada momen di mana saya merasa classroom management saya berantakan dan harus mengulang dari awal. Tapi justru di situlah menariknya: tidak ada rumus sakti, yang ada adalah kebiasaan refleksi dan keberanian untuk menyesuaikan pendekatan setiap kali ketemu karakter siswa yang baru. Artikel ini saya tulis bukan sebagai pakar, melainkan sebagai sesama guru yang ingin berbagi apa yang sejauh ini lumayan bekerja di kelas Year 9 sampai 12.

Suasana kelas Year 10 History dengan meja berkelompok dan papan tulis penuh catatan
Suasana kelas Year 10 History dengan meja berkelompok dan papan tulis penuh catatan

Pahami Dulu Kenapa Siswa Bertingkah

Banyak guru baru, termasuk saya dulu, langsung panik begitu ada siswa yang tidak mendengarkan atau malah mengganggu temannya. Reaksi pertama biasanya marah atau memberi hukuman kecil. Tapi dari pengalaman, pendekatan reaktif semacam itu jarang menyelesaikan akar masalah. Saya mulai banyak membaca dan akhirnya lebih sering bertanya dalam hati: what is the behaviour trying to communicate? Siswa yang selalu izin ke toilet padahal baru lima menit pelajaran dimulai, misalnya, mungkin sebenarnya sedang overwhelmed dengan materi, atau justru butuh validasi dari teman-temannya di luar kelas.

Di kelas Bahasa Indonesia Year 11, saya pernah punya murid yang selalu menyela dengan jokes receh setiap kali saya menjelaskan tata bahasa. Awalnya saya kesal, tetapi setelah saya ajak ngobrol santai di jam homeroom, saya baru tahu dia sebenarnya sangat insecure dengan kemampuannya membaca teks bahasa Indonesia dan menggunakan humor sebagai tameng. Dari situ saya paham, classroom management is often about reading the invisible backpack yang mereka bawa dari rumah atau pergaulan. Memang tidak bisa membaca pikiran, tapi membiasakan diri mengamati pola dan memvalidasi perasaan mereka sebelum memberi instruksi adalah langkah pertama yang cukup powerful.

Secara statistik, fenomena ini bukan pengalaman pribadi semata. Menurut survei Australian Education Union tahun 2022, sekitar 66% guru tahap awal di Australia menyebutkan bahwa student behaviour dan classroom management adalah tantangan paling berat. Data itu membuat saya merasa tidak sendirian, dan sekaligus menegaskan bahwa kita perlu lebih banyak diskusi terbuka tentang apa sebenarnya yang terjadi di dalam kelas sebelum melabeli siswa sebagai “nakal.”

Bangun Rutinitas yang Konsisten Tanpa Jadi Robot

Salah satu pelajaran paling berharga dari tahun pertama: konsistensi itu mahal harganya, tetapi rutinitas tidak harus kaku. Saya mulai menerapkan ritual sederhana di awal setiap pelajaran, entah itu di History atau Bahasa Indonesia. Begitu bel masuk berbunyi, saya sudah berdiri di depan pintu menyambut siswa satu per satu, kadang sambil menyapa pakai bahasa campur, “Morning, udah siap explore Perang Dunia I hari ini?” atau “Sudah hafal sepuluh kosakata baru belum?” Ini membantu mereka switch mode dari social time ke learning time tanpa perlu teriakan.

Masuk ke dalam kelas, saya selalu punya slide pembuka yang sama: tanggal, agenda singkat, dan satu pertanyaan pemicu. Di layar terpampang, misalnya, “What makes a source reliable?” untuk kelas History, atau “Kenapa ‘selamat pagi’ beda sama ‘selamat siang’?” untuk Bahasa Indonesia. Formatnya sederhana, tetapi pengulangan semacam ini memberi semacam psychological safety karena siswa tahu what to expect, dan itu langsung mengurangi kecemasan yang sering muncul di awal pelajaran.

Tentu, fleksibilitas tetap penting. Kalau suatu hari hujan deras dan mereka masuk kelas dengan baju basah, saya tidak maksa langsung mulai materi. Kadang saya justru memulai dengan cerita ringan tentang kucing Metal yang lari ketakutan waktu dengar petir, atau Mitsy yang malah tidur lelap di dekat heater. Humor kecil