Lewati ke konten utama
Basa Basi Mitsy

Teacher Wellbeing

Cara Menjaga Semangat Mengajar ala Basa Basi Mitsy: Cerita Guru Sejarah & Bahasa Indonesia

Guru Australia berbagi cara menjaga semangat mengajar sepanjang tahun dengan campuran refleksi pagi, kebahagiaan kecil di kelas, dan pelajaran dari kucing Metal dan Mitsy. Blog Basa Basi Mitsy sejak 2024.

Cara Menjaga Semangat Mengajar ala Basa Basi Mitsy: Cerita Guru Sejarah & Bahasa Indonesia

Hari ini, setelah bel pulang sekolah berbunyi dan Year 10 History saya akhirnya selesai membahas penyebab Perang Dunia I, saya duduk di meja guru sambil mengelus kepala Metal yang kebetulan ikut ke sekolah? Nggak lah, Metal dan Mitsy kan cuma di rumah. Tapi rasanya, semangat mengajar saya butuh dielus juga. Di sinilah Basa Basi Mitsy jadi tempat saya cerita, tempat saya mengingat lagi kenapa saya mencintai pekerjaan ini. Saya Lukman, guru Sejarah dan Bahasa Indonesia di sebuah SMA di pinggiran Melbourne, juga wali kelas untuk Year 9 sampai 12. Sudah dua tahun saya nulis di blog ini sejak 2024, dan selalu ada hal baru yang bisa dibagikan soal menjaga api semangat itu tetap menyala sepanjang tahun ajaran.

Rutinitas Pagi yang Bikin Hati Adem

Buat saya, semangat mengajar itu nggak muncul begitu aja pas masuk kelas. Dia harus dirawat dari pagi, bahkan sejak malam sebelumnya. Saya selalu siapin kopi tubruk kesukaan saya jam setengah enam pagi, sambil duduk di teras belakang, ditemani Mitsy yang suka tidur di pangkuan. Di 15 menit yang hening itu, saya review rencana mengajar hari itu, tapi bukan dalam mode panik. Lebih ke refleksi kecil: apa yang berhasil kemarin, apa yang enggak, dan gimana saya pengen murid-murid saya ngerasa hari ini. Kadang saya teringat wajah Alisha yang minggu lalu struggling dengan teks Sejarah Romawi, atau Kevin yang tiba-tiba cerita dia mulai suka Bahasa Indonesia karena bisa ngobrol sama neneknya di Jakarta. Momen-momen kecil kayak gini jadi jangkar semangat saya. Menurut data Australian Institute for Teaching and School Leadership (AITSL), guru yang meluangkan waktu refleksi harian punya tingkat burnout 23% lebih rendah dibanding yang langsung tancap gas tanpa jeda. Rutinitas pagi sederhana ini memang nggak ilmiah bangeet, tapi ampuh.

Metal tidur di samping buku pelajaran Sejarah dan kamus Bahasa Indonesia
Metal tidur di samping buku pelajaran Sejarah dan kamus Bahasa Indonesia

Menemukan Kebahagiaan Kecilan di Kelas

Kadang semangat saya drop karena ngerasa nggak ada kemajuan, terutama pas ngajar topik yang berat. Misalnya, ketika Year 11 harus nulis esai tentang alasan runtuhnya Kekaisaran Romawi. Saya lihat muka mereka bingung, dan saya merasa gagal. Tapi saya belajar satu hal: cari kebahagiaan kecil. Sekecil apa pun.

Kemarin, di kelas Bahasa Indonesia Year 9, saya minta mereka bikin kalimat pakai kata “makan”. Ada yang nulis “Saya makan pizza di rumah teman”, biasa aja. Tapi Tom, murid yang biasanya diem, tiba-tiba nyeletuk, “Pak, kalau ‘Saya makan hati karena dia nggak ngasih PR’ betul nggak?” Kelas langsung pecah ketawa, termasuk saya. Di situlah saya sadar, ngajar Bahasa Indonesia bukan cuma soal grammar, tapi soal koneksi budaya dan emosi. Momen seperti itu saya simpan di saku mental, buat diingat pas lagi lelah. Saya sering bilang ke anak-anak wali kelas Year 10: “Carilah satu kemenangan kecil setiap hari, niscaya kalian nggak akan tenggelam di laut tugas.” Nasihat ini pun saya terapin ke diri sendiri.

Catatan kecil berisi quotes penyemangat dari murid Year 10
Catatan kecil berisi quotes penyemangat dari murid Year 10

Berkaca pada Metal dan Mitsy: Pelajaran tentang Ketekunan

Siapa sangka dua kucing saya bisa jadi guru kehidupan? Metal, si hitam putih yang agak pemalas, selalu tunjukin bahwa istirahat itu penting. Dia bisa tidur 16 jam sehari tanpa rasa bersalah. Sementara Mitsy, yang lebih kecil dan lincah, nggak pernah menyerah kalau minta makan, meskipun sudah saya tolak tiga kali. Dia akan duduk manis di depan saya dan meong pelan terus sampai saya luluh.

Ketekunan Mitsy itu mengingatkan saya pada proses mengajar. Ada hari di mana Year 12 saya tidak kunjung paham konsep historiografi, dan saya harus menjelaskan dengan tiga metode ngajar berbeda. Rasanya pengen nyerah, tapi bayangan Mitsy yang nggak kenal kata menyerah bikin saya coba lagi. Kadang, ketekunan itu ya cuma soal muncul terus dan meong pelan sampai alam semesta ngasih kamu tuna. Saya nggak bilang mengajar itu seperti minta makan, tapi esensinya mirip: terus mencoba dengan cara yang lebih baik, tanpa kehilangan kelembutan.

Musim dingin ini, ketika liburan semester masih terasa jauh, saya kembali menulis di Basa Basi Mitsy. Saya ingin mengingatkan diri sendiri, dan semoga juga rekan guru yang baca, bahwa semangat itu bukan sesuatu yang kita temukan, tapi sesuatu yang kita pelihara setiap hari. Sejak 2024, blog ini udah mencatat lebih dari 150 artikel tentang suka duka mengajar, dan itu bukan angka yang kecil. Ini bukti kalau kita nggak sendirian di rollercoaster ini.

Tetap semangat, tetap manusiawi, dan jangan lupa kasih makan kucing.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang dimaksud dengan Basa Basi Mitsy?
Basa Basi Mitsy adalah blog pribadi seorang guru di Australia yang berbagi cerita tentang dunia mengajar, termasuk campuran bahasa Inggris dan Indonesia. Saya mulai nulis di sini sejak 2024 buat refleksi dan nyambung sama sesama pendidik.
Bagaimana cara menjaga semangat mengajar sepanjang tahun ajaran?
Saya menerapkan rutinitas pagi dengan refleksi singkat, mencari kebahagiaan kecil di kelas (seperti joke murid atau kemajuan kecil), dan belajar dari kucing saya soal istirahat dan ketekunan. Hal-hal sederhana ini membantu banget.
Apakah mengajar Bahasa Indonesia di Australia itu sulit?
Tantangannya ada, terutama karena konteks budaya yang berbeda. Tapi justru di situ serunya. Murid-murid sering menemukan koneksi personal, kayak ngobrol sama keluarga di Indonesia, yang bikin mereka semangat belajar.
Kenapa kucing Metal dan Mitsy sering disebut di artikel ini?
Karena mereka adalah bagian dari hidup saya dan sering jadi metafora dalam mengajar. Metal mengajarkan pentingnya istirahat tanpa rasa bersalah, sementara Mitsy mengajarkan ketekunan lembut. Cerita tentang mereka juga bikin tulisan di Basa Basi Mitsy terasa lebih hidup.