Teaching Practice
Cara Membuat Soal Latihan yang Mengukur Pemahaman ala Basa Basi Mitsy, Jangan Cuma Hafalan
Basa Basi Mitsy: guru bilingual berbagi cara jujur menyusun soal latihan yang mengukur pemahaman, bukan hafalan, di kelas Sejarah dan Bahasa Indonesia. Tips ringkas.

Thursday afternoon kemarin saya duduk di meja guru sambil memandangi setumpuk kertas Year 9 yang baru selesai dikoreksi. Metal, si kucing abu-abu saya, rebahan di atas tumpukan essay, dan Mitsy sibuk menggigit ujung pulpen. Di ruang guru yang mulai sepi, pertanyaan lama muncul lagi: how do we really know if a practice question measures understanding, not just memory? That question brought me back to Basa Basi Mitsy. This little blog is my bilingual staff room, tempat saya cerita jujur soal kelas, kurikulum Sejarah dan Bahasa Indonesia, dan dua kucing saya yang suka ikut campur.
Jujur aja, saya dulu sering banget bikin soal latihan yang sebenarnya cuma nguji hafalan. Murid bisa dapat nilai bagus kalau mereka ingat tanggal, tokoh, atau kosakata. Tapi waktu saya tanya, “Kenapa kamu pilih jawaban itu?” banyak yang bengong. That was the moment I realised a good practice task has to push students to explain reasoning, bukan sekadar match the keyword.
Mulai dari Learning Intention, Bukan dari Daftar Topik
Every time I sit down to write a practice task, saya mulai dengan satu kalimat: what do I want students to be able to do after this? For example, in Year 9 History, waktu kami bahas keruntuhan Romawi, learning intention saya bukan “students can list three emperors”. Learning intention saya adalah “students can explain how internal conflict and external pressure worked together to weaken Rome”.
Begitu learning intention jelas, soal latihan ikut berubah. Pertanyaan pilihan ganda tetap bisa dipakai, tetapi bukan sekadar “Kapan Colosseum dibuka?” melainkan “Mengapa pembangunan publik seperti Colosseum penting untuk kontrol politik di Roma?” The second question asks students to connect a fact to a bigger idea. That is the first step kalau kamu mau soal latihan yang mengukur pemahaman. Saya ambil pendekatan ini dari prinsip backward design yang juga terlihat di achievement standards Australian Curriculum, misalnya untuk History di Year 9. Australian Curriculum: History
Gunakan Stimulus Pendek yang Punya Konteks, Bukan Pertanyaan Telanjang
Murid sering kelihatan paham saat mereka hafal definisi, tapi hilang begitu konteksnya diganti. So I started embedding a short stimulus in almost every practice task. For History, bisa berupa kutipan primer dari surat prajurit WWI atau peta rute invasi. For Bahasa Indonesia, stimulus bisa berupa dialog singkat antara dua orang di pasar, atau pesan WhatsApp dalam bahasa campuran.
One verifiable fact I use with my Year 10 class: Bahasa Indonesia is spoken by around 270 million people, spread across more than 700 languages in the archipelago. When I give a listening task about a food stall, students are not just identifying words. Mereka harus infer, misalnya, apakah si penjual lagi marah atau cuma buru-buru. That kind of inference is understanding in action.
Tulis Pertanyaan yang Memaksa Siswa Menjelaskan, Bukan Menebak
The real test of understanding is not getting the right letter, but being able to defend that letter. Di kelas saya, setiap beberapa latihan saya tambahkan satu baris pendek: “Explain your answer in one sentence.” Waktu saya koreksi, I look for the reasoning, not just the final choice.
Example from a recent Year 11 Sejarah task: I gave students a short paragraph about the Treaty of Versailles and asked, “If you were a German citizen in 1919, would you call this treaty fair?” Most students wrote “No”, but the ones who understood the material could explain why. Mereka menyebut reparasi, hilangnya wilayah, dan war guilt clause. Siswa yang cuma hafal jawaban bisa bilang “No” tetapi tidak bisa sambungkan dengan bukti.
Uji Coba Soal ke Beberapa Siswa dan Baca Kesalahan Mereka
Saya sering lupa bahwa soal yang saya anggap jelas belum tentu jelas untuk murid. After testing a set of Bahasa Indonesia questions with my Year 9 class, I found one question was answered correctly by 80% of them for the wrong reason. Mereka semua memilih “sudah” karena ada kata “tadi”, padahal maksud soal saya adalah penggunaan “sudah” sebagai penanda aspek selesai. That failure is not a student failure. It is a design failure.
Now, setelah setiap batch soal latihan, I pick three or four wrong answers and interview those students at lunch. Not in a scary way. Sambil makan biskuit, saya tanya, “Kenapa kamu pilih B?” Kadang Mitsy ikut duduk di bangku dan siswa malah lebih santai. The answers reveal whether my distractors are testing misunderstandings or just adding noise.
Buat Rubrik Sederhana supaya Nilai Transparan
Pernah ada momen di homeroom Year 12: seorang murid datang sambil bawa kertas dan bilang, “Sir, kenapa saya cuma dapat 6 dari 10? Saya sudah jawab semua.” Pertanyaan itu bagus. Kalau rubrik tidak jelas, nilai memang terlihat misterius. Now I use a very short rubric for open-ended practice tasks: Beginning, Developing, Proficient, and Excellent. Di bawah tiap level, saya tulis satu atau dua kalimat singkat.
For a Year 9 essay about the causes of WWI, “Proficient” might say: “Explains at least two long-term causes and connects them to the outbreak of war.” “Excellent” might require “evaluates the relative importance of causes and uses specific evidence.” Siswa bisa lihat sendiri di mana posisi mereka. It also helps me write questions because I know what kind of evidence counts as understanding.
Ajak Siswa Menilai Soal Sendiri
One simple routine that works well di kelas Year 10 adalah meminta siswa baca soal latihan sebelum mereka mengerjakan. Saya tanya, “Kalau kalian jadi guru, bagian mana yang bikin bingung?” Often they point out words like “jelaskan” or “evaluasi” yang tidak pernah saya definisikan. That feedback helps me rewrite the question before it becomes an official task.
When students mark their own work using the rubric, they also start to see what understanding looks like from outside. I had a Year 12 student say, “Sir, saya paham sekarang kenapa jawaban saya cuma deskripsi, bukan analisis.” That moment is worth more than a stack of perfect scores. Plus, Mitsy usually supervises from the windowsill, which makes the whole process less formal.
So, next time kamu buat soal latihan, start small. Ambil satu learning intention, satu stimulus pendek, dan dua pertanyaan yang meminta penjelasan. Test it with your students. Jangan takut untuk bilang, “Soal saya masih jelek, belum mengukur apa yang saya mau.” That honest reflection, buat saya, is the heart of teaching. Dan kalau kucing kamu ikut nimbrung, biarkan saja. Metal and Mitsy approve.