Bunuh Diri

Posted on

Akhir-akhir ini sosmed kembali diguncang dengan bunuh diri live di Tiktok dan sudah menyebar ke sosmed popular lainnya seperti Facebook dan Instagram. Di video itu, orang itu membunuh diri dengan pistol dan sungguh mengerikan (saya belum pernah nonton dan ngak ingin). Saya mendapatkan berita ini dari teman dan teman saya juga menjelaskan kejadiannya.

Orang yang bunuh diri adalah seorang penganut Kristen dan sering membantu di gereja, orangnya terkenal baik dan sabar. Apa yang sebenarnya terjadi kita tidak tau? mungkin tidak akan pernah tau, mungkin buat kita orang lain, ini tidak penting, tetapi sangat penting untuk keluarganya (mungkin).

Akhir-akhir ini berita bunuh diri makin banyak, sebulan atau dua bulan yang lalu, ada seorang anak kelas 12 bunuh diri, karena stress? karena tekanan orang tua? karena tidak tahan lagi dengan lockdown? karena takut akan masa depan? Dia melompat di stasiun kereta api dan meninggal saat itu juga.

Pada masa covid ini, kita semua merasa stress, kita semua merasa tertekan, kita butuh teman bicara dan kita ingin disayang, tetapi mungkin ada orang yang tidak memiliki yang kamu punya, tapi ada juga yang memiliki segalanya tetap merasa kesepian. Jaman sekarang, kegelisahan dalam diri orang makin tinggi, masyarakat kita sudah berubah, hidup di jaman yang berteknologi canggih ini, kamu makin mudah merasa sepi, kenapa? ya jarak makin dekat, tetapi kita hanya berbicara dengan teknologi, tidak lagi dengan manusia, sedangkan manusia diciptakan hidup bersama. Hidup bersama merupakan impian yang susah dicapai.

Aksi bunuh diri lebih mudah terpapar di kalangan orang, makin banyak yang mencobanya live untuk mencari sensasi atau mengirim pesan, tetapi ini malah membuat semua orang lebih gelisah dan tidak aman. Bunuh diri juga bisa menjadi pemicu kenangan lama, seperti rasa kehilangan, rasa kangen. Sekarang kita ada psikolog untuk membantu tetapi masih banyak yang menganggap mereka itu tabu. Kalau kamu merasa terganggu bagusnya mencari bantuan.

Untuk orang tua: saya benar saranin beberapa hal berikut:

  • pasang password / kode rahasia untuk alat-alat teknologi supaya tidak diakses anak di bawah umur
  • mengawasi anak-anak online dan memantau materi yang mereka gunakan
  • terbukalah dan berdiskusi dengan anak-anakmu bahan yang akan mereka temui online.

Ini sepertinya mudah cuma masih banyak anak di Indo yang di bawah umur memiliki gadget yang tidak sepantasnya dan juga orang tua yang tidak mengerti gadget sendiri.

Semoga Indo bisa membangun lebih banyak lembaga yang bisa membantu masalah kegelisahan dan stress supaya lebih sukses dan maju

 

If you are in immediate danger call 000 now.  If you require advice or assistance, the following services can offer counselling and support:
Lifeline 13 11 14 
| visit website
Beyond Blue 1300 22 4636 
| visit website
Kids Helpline 1800 55 1800 
| visit website
MensLine Australia 1300 789 978
 | visit website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *